|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/https://sabda.org/publikasi/e-leadership/34 |
|
e-Leadership edisi 34 (11-9-2008)
|
|
==========MILIS PUBLIKASI E-LEADERSHIP EDISI SEPTEMBER 2008===========
TOPIK: MASALAH DAN JERAT DALAM KEPEMIMPINAN
MENU SAJI
EDITORIAL: Mengantisipasi Godaan Sebagai Pemimpin
ARTIKEL 1: Bahaya-Bahaya Khusus bagi Seorang Pemimpin
ARTIKEL 2: Tiga Jerat Utama Kepemimpinan
TIPS: Bagaimana Mengatasi Cobaan?
INSPIRASI: Berhati-Hatilah dengan Kekuasaan Anda
STOP PRESS: GUBUK Online (Gudang Buku Kristen Online)
==================================**==================================
EDITORIAL
MENGANTISIPASI GODAAN SEBAGAI PEMIMPIN
Setiap profesi memiliki godaannya masing-masing. Contohnya seorang
bendahara, godaan yang sering dihadapi adalah menggunakan uang yang
bukan miliknya terlebih dahulu, atau yang lebih parah,
menyelundupkan sebagian uang itu untuk kepentingannya sendiri. Lalu
bagaimana dengan pemimpin? Pemimpin tentunya menghadapi lebih banyak
godaan mengingat ia memiliki kuasa. Andai kata seorang pemimpin
jatuh dalam pencobaan, tentu saja pengikutnya juga akan terseret
bersamanya. Oleh karena itu, tanggung jawab seorang pemimpin
sangatlah besar. Ia tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya
sendiri, namun juga orang lain, terutama kepada Tuhan.
Karena itu, ada baiknya jika seorang pemimpin dan calon pemimpin
mengenali godaan atau cobaan yang mungkin dihadapinya agar dapat
melakukan antisipasi. Dua artikel dalam edisi ini diharapkan dapat
membantu dalam hal ini. Selain itu, materi dalam kolom Tips juga
dapat membantu untuk mengerti cara mengatasi cobaan yang kita
hadapi. Jangan lewatkan pula kolom Inspirasi, yang kami harap dapat
menginspirasi Anda untuk belajar dari kesalahan orang-orang yang
jatuh dalam pencobaan. Selamat menikmati, semoga bermanfaat.
Tuhan memberkati!
Pimpinan Redaksi e-Leadership,
Dian Pradana
"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam
pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."
(Matius 26:41)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Matius+26:41 &qt;
==================================**==================================
POWER TENDS TO CORRUPT AND ABSOLUTE POWER CORRUPTS ABSOLUTELY
==================================**==================================
ARTIKEL 1
BAHAYA-BAHAYA KHUSUS BAGI SEORANG PEMIMPIN
Diringkas oleh: Puji Arya Yanti
"Supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku
sendiri ditolak." (1 Korintus 9:27)
Setiap pemimpin Kristen harus mewaspadai bahaya-bahaya yang
mengancam, khususnya bahaya di bidang rohani karena iblis tidak
mengenal belas kasihan dan tidak akan melepaskan setiap kesempatan
untuk mencobai siapa pun, termasuk pemimpin Kristen.
KESOMBONGAN
Dosa yang paling tidak disadari oleh korbannya adalah kesombongan.
Jika tidak dibendung, kesombongan akan menghalangi perkembangan
pelayanan Kerajaan Tuhan karena "setiap orang yang tinggi hati
adalah kekejian bagi TUHAN" (Amsal 16:5). Kesombongan berarti
melupakan bahwa rahmat dan semua yang ada pada kita adalah pemberian
Allah. Ada tiga macam ujian yang dapat dipakai untuk mengungkapkan
apakah kita mengalah kepada bujukan kesombongan atau tidak.
Ujian mengenai hal dibelakangkan.
Ujian tentang bagaimana reaksi kita apabila orang lain lebih
diutamakan daripada kita.
Ujian kejujuran.
Ujian tentang bagaimana perasaan kita jika orang lain, terutama
lawan-lawan kita, mengatakan hal yang sebenarnya mengenai kita?
Ujian kritik.
Ujian tentang bagaimana sikap kita terhadap sebuah kritikan. Apakah
kritikan tersebut akan menimbulkan kebencian dan kemarahan, ataukah
menyebabkan kita segera membenarkan diri sendiri, bahkan segera
membalas mengkritik?
MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI
Salah satu penyataan dari kesombongan adalah mementingkan diri
sendiri, yaitu berpikir dan berbicara banyak mengenai diri sendiri
maupun kebiasaan untuk membesar-besarkan prestasi dan kepentingan
diri sendiri. Pemimpin yang sudah lama dikagumi dan ditaati oleh
para pengikutnya menghadapi risiko untuk mengalah kepada bahaya ini.
Ada satu ujian yang baik untuk mengukur timbulnya atau hilangnya
sifat mementingkan diri sendiri, yaitu dengan memerhatikan bagaimana
Anda mendengarkan pujian bagi orang lain yang setaraf dengan Anda.
Kalau Anda tidak dapat mendengarkan pujian bagi seorang saingan
tanpa satu keinginan untuk menguranginya atau mencoba untuk
meremehkan pekerjaannya, Anda boleh merasa yakin bahwa di dalam diri
Anda masih ada dorongan untuk mementingkan diri sendiri. Dorongan
seperti ini harus dibawa ke bawah kasih karunia Allah.
IRI HATI
Orang yang iri hati bersikap kuatir dan curiga terhadap saingannya.
Iri hati ini juga erat hubungannya dengan kesombongan. Pencobaan iri
hati ini dihadapkan kepada Musa melalui kesetiaan rekan-rekan
sekerjanya (Bilangan 11:28). Dua dari beberapa orang yang ditunjuk
oleh Musa untuk membantunya telah bernubuat, dan para pengikutnya
yang setia merasa iri hati demi kepentingan Musa karena haknya
sebagai nabi seolah-olah dirampas dan nama baiknya mendapat
tantangan. Tetapi, sifat iri hati ini tidak memunyai tempat di dalam
hati Musa. Hal-hal seperti itu dapat dengan aman diserahkan kepada
Allah yang telah memanggilnya.
KEPOPULERAN
Para pengikut yang memberi hormat secara berlebih-lebihan kepada
para pemimpin gereja merupakan ciri ketidakmatangan rohani dan
kedagingan. Kelemahan yang sama juga ditunjukkan apabila pemimpin
menerima penghormatan yang berlebihan tersebut. Para pemimpin rohani
memang harus "sungguh-sungguh dijunjung dalam kasih karena pekerjaan
mereka", tetapi penghargaan seperti itu tidak boleh menjadi pemujaan
yang berlebihan. Seorang pemimpin dianggap paling berhasil jika ia
dapat mengarahkan cinta para pengikutnya lebih besar kepada Kristus
daripada kepada dirinya sendiri.
Yesus menerangkan hal ini sejelas-jelasnya pada waktu Ia berkata,
"Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu." Dan Ia mengatakan
kebenaran yang sejalan dengan itu pada waktu Ia berkata,
"Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu,
dan jika mereka mengucilkan kamu dan mencela kamu serta menolak
namamu sebagai sesuatu yang jahat."
TIDAK BERSALAH
Seorang pemimpin yang mengenal Allah lebih baik daripada
rekan-rekannya, berada dalam bahaya untuk jatuh secara tidak
disadari ke dalam bahaya yang halus, yaitu kurang kemungkinannya
untuk berbuat salah. Pertimbangannya biasanya terbukti lebih tepat
daripada orang lain. Karena itu, sulit baginya untuk mengakui
kemungkinan ia bersalah dan menyerah kepada penilaian orang lain.
Kerelaan untuk mengakui bahwa kita mungkin bersalah dalam menilai
dan untuk menghormati penilaian saudara-saudara kita, akan memerkuat
dan bukannya mengurangi pengaruh. Menganggap diri tidak dapat
bersalah menyebabkan hilangnya keyakinan. Kedengarannya memang aneh,
tetapi benar bahwa sikap seperti itu dapat timbul bersama-sama
dengan kerendahan hati yang sejati di bidang-bidang lain dalam
kehidupan.
MERASA SANGAT DIPERLUKAN
Banyak orang yang besar pengaruhnya telah jatuh menghadapi pencobaan
dengan berpendirian bahwa mereka tidak dapat diganti oleh orang
lain, dan bahwa demi pekerjaan, mereka tidak dapat melepaskan
kedudukan mereka. Mereka tetap memegang kekuasaan itu lama setelah
pekerjaan itu sepatutnya diserahkan kepada orang-orang yang lebih
muda. Tidak ada lingkungan yang lain di mana kecenderungan yang
membahayakan ini lebih lazim daripada di dalam pekerjaan Kristen.
Selama bertahun-tahun, kemajuan dihalangi oleh orang-orang yang
bermaksud baik, tetapi telah lanjut usia, yang tidak mau
meninggalkan kedudukannya dan ingin tetap memegang tali kendali
dengan tangan-tangannya yang sudah mulai lemah. Seharusnya sejak
semula ia bertujuan untuk tetap di belakang, mengembangkan sikap
bergantung kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh di antara para
anggotanya, dan melatih orang-orang rohani untuk secepat mungkin
mengambil tanggung jawab pekerjaan selengkapnya.
KEGIRANGAN DAN KEMURUNGAN
Selalu ada waktu-waktu di mana kita mengalami kemurungan dan
kekecewaan dalam pekerjaan melayani Allah. Ada juga hari-hari di
mana kita menanjak dan membuat prestasi. Seorang pemimpin mungkin
sekali terlalu murung karena suatu hal dan terlalu girang karena
yang lainnya. Tidak mudah untuk menemukan jalan tengah.
Ada waktu-waktu di mana segala sesuatu berjalan dengan baik.
Tujuan-tujuan tercapai, usaha-usaha yang direncanakan berhasil, Roh
bekerja, jiwa-jiwa diselamatkan, dan orang-orang suci diberkati
Tuhan. Pada saat-saat seperti ini, seorang pemimpin yang dewasa
mengetahui siapa yang patut mendapat mahkota atas prestasinya, yaitu
Tuhan yang berhak memilikinya. Kebiasaan ini mencegah pemimpin
menyombongkan diri atas kemuliaan yang merupakan milik Allah.
NABI ATAU PEMIMPIN?
Kadang-kadang orang menghadapi konflik antara dua pelayanan yang
sama-sama cocok baginya. Misalnya, seorang pendeta yang memunyai
bakat-bakat yang menonjol untuk menjadi pemimpin mungkin mencapai
satu kedudukan di dalam gereja atau organisasinya, di mana ia harus
memilih apakah ia akan berperan sebagai seorang pemimpin yang
populer atau seorang nabi yang tidak populer.
Tentu saja tidak ada batas-batas yang jelas antara kedua peranan,
dan kedudukan yang satu tidak selalu meniadakan yang lain. Tetapi
suatu keadaan dapat dengan mudah berkembang pada waktu orang harus
memilih antara pelayanan rohani dan kepemimpinan, yang akan
menghalangi pelayanan rohani itu mencapai puncaknya. Di sinilah
letak bahayanya.
PENOLAKAN
Meskipun pengorbanan Paulus begitu besar dan sukses yang dicapai
dalam pelayanan kepada Kristus tidak ada batasnya, namun ia memunyai
satu perasaan takut yang sehat di dalam hatinya. Ia takut
kalau-kalau sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, ia sendiri
ditolak (1 Korintus 9:27). Baginya, hal ini selalu menjadi suatu
tantangan dan peringatan, sama seperti untuk semua orang yang diberi
kepercayaan suatu tanggung jawab rohani.
Paulus menyadari bahwa obat mujarab untuk bahaya yang selalu
mengancam ini bukan hanya terletak di bidang pengajaran atau etika
saja, melainkan juga di bidang fisik. Perkataan menguasai diri
berarti menguasai jalan tengah, yaitu bukannya mengekang diri secara
berlebihan dan menjadi fakir di satu pihak atau mengumbar hawa nafsu
di pihak lain. Ia tidak mau dikuasai oleh tubuhnya, baik dalam hal
nafsu atau kesenangan diri yang tiada batas. Ungkapan "menguasai
seluruhnya" menggambarkan seorang jenderal yang menang dalam
peperangan dan membawa pulang para tawanan yang sekarang telah
menjadi budaknya.
Diringkas dari:
Judul buku: Kepemimpinan Rohani
Judul asli buku: Spiritual Leadership
Penulis: J. Oswald Sanders
Penerjemah: Chris J. Samuel dan Ganda Wargasetia
Penerbit: Kalam Hidup, Bandung 1979
Halaman: 155 -- 167
==================================**==================================
ARTIKEL 2
TIGA JERAT UTAMA KEPEMIMPINAN
Tiga bidang dosa yang merupakan akar dari kejatuhan pemimpin Kristen
adalah cinta wanita (imoralitas dan zinah), cinta uang (keinginan
untuk menjadi kaya), dan cinta kedudukan/takhta (sombong).
Diberi istilah apapun -- wanita, harta, dan takhta; perempuan,
permata, dan pemujaan/pemuliaan; kaum hawa, kekayaan, dan kejuaraan
-- semuanya sama saja.
Pengalaman hanya meneguhkan kesaksian firman Tuhan: "Janganlah kamu
mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang
mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan
keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa,
melainkan dari dunia." (1 Yohanes 2:15-16)
Tidak seorang pun yang kebal terhadap dosa-dosa ini. Saya tidak
beranggapan bahwa diri saya sendiri kebal terhadap dosa-dosa itu dan
saya juga belum pernah berjumpa dengan seorang pun yang kebal
terhadap dosa tersebut. Justru ada banyak kegagalan di antara para
pemimpin Kristen disebabkan oleh hal-hal tadi.
Setiap pemimpin yang bijaksana tahu bahwa jika ia tidak berlatih
untuk menguasai dirinya, ia dapat jatuh ke dalam salah satu jerat
itu, atau mungkin dua, bahkan ketiga-tiganya. Tak dapat diragukan
bahwa ketiga hal ini merupakan beberapa dari dosa-dosa yang
disebutkan dalam Ibrani 12:1.
Menurut 1 Yohanes 2:15, kurangnya kasih kepada Bapa memberi
kesempatan bagi kasih kepada dunia untuk berkembang. Hal ini membuat
Anda mudah diserang dalam bidang-bidang tersebut jika Anda berada
dalam posisi kepemimpinan.
BAGAIMANA MENGATASINYA
Latihan dan persiapan yang benar dalam kepemimpinan mencakup hal
mengembangkan kepercayaan yang mutlak kepada Tuhan dan firman-Nya.
Jika Anda hidup dalam iman, Anda tidak akan goyah. Anda akan mampu
menghindari jerat-jerat dosa seks, ketamakan, dan kesombongan. Tiga
bidang dosa ini berasal dari rasa tidak aman (kurang iman dan
kepercayaan di dalam Tuhan).
IMORALITAS
Imoralitas biasanya merupakan akibat perkawinan yang tidak kokoh
disebabkan oleh rendahnya penghargaan terhadap diri. Hal ini
menyebabkan Anda sadar diri, berpusat diri, dan mementingkan diri.
Pasangan yang tidak berbahagia akan menyerang balik dan pemimpin
merasa tersingkir dari kasih istrinya sehingga jatuh di tangan
seseorang yang nampaknya lebih mengerti dan mengasihi.
Pemimpin harus mengusahakan waktu bersama-sama dengan istrinya dan
anak-anaknya. Ia harus aktif memerhatikan anggota-anggota
keluarganya. Banyaknya tekanan dan jadwal yang padat karena tanggung
jawab gereja dan masalah-masalah, akan melanggar prioritas utama
ini.
NASIHAT UNTUK ISTRI
Istri juga harus memberikan perhatian, kepekaan, dan dukungan kepada
suaminya. Pemimpin selalu digempur oleh tekanan-tekanan tugas yang
selalu bertambah. Ia boleh jadi merasa tidak mampu untuk menangani
semuanya dan menjadi frustrasi serta takut, merasa terisolir, dan
kesepian.
Pada waktu-waktu seperti itu, perkataan yang baik dan sentuhan yang
lembut membuat suatu perbedaan benar dalam dunia si pemimpin gereja
yang sudah begitu letih itu. Pengertian dan dukungan dari istri
dapat menyelamatkan dia dan pelayanannya.
GORESAN YANG TAK TERHAPUSKAN
Kegagalan secara moral sungguh berbahaya. Salomo berkata mengenai
seseorang yang jatuh dalam perzinahan, "Siksa dan cemooh
diperolehnya, malunya tidak terhapuskan" (Amsal 6:33). Hal itu akan
merintangi pelayanan Anda sepanjang sisa hidup Anda.
Pengampunan dan anugerah pemulihan Allah selalu dapat diperoleh,
tetapi "siksa dan malu" terus menjadi akibatnya. Melalui kegagalan
moral, Anda akan kehilangan semua yang telah Anda capai pada
tahun-tahun persiapan Anda untuk menjadi seorang pemimpin.
KETAMAKAN
Ketamakan (cinta uang) berasal dari kurangnya keyakinan akan
penyediaan Allah. Sebagai seorang pemimpin rohani, Anda harus "...
mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya." Jika Anda
melakukan hal ini, Yesus berkata, "... semuanya itu akan ditambahkan
kepadamu."
Ia akan menambahkan kepadamu makanan, pakaian, kesehatan, rumah,
kebutuhan transportasi yang Anda butuhkan jika Anda mempraktikkan
prinsip-prinsip kemakmuran yang terdapat dalam Alkitab ini dengan
setia. Prinsip ini adalah sebagai berikut: "Berilah dan kamu akan
diberi." (Lukas 6:38)
Sampai Anda belajar secara tetap memberikan perpuluhan Anda kepada
Tuhan, Anda tidak akan pernah mengalami penyediaan Allah bagi
kebutuhan-kebutuhan Anda. Anda akan mematahkan kutuk kemiskinan
dengan memberikan perpuluhan dari berkat Allah yang Anda terima.
Berikan kepada misi penginjilan, menolong janda-janda, anak-anak
yatim piatu, orang-orang miskin di sekitar Anda, dan Tuhan berjanji,
"Aku akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat
kepadamu sampai berkelimpahan." (Maleakhi 3:7-11)
Sekali Anda mulai mempraktikkan hal ini, mulailah mengajarkan kepada
anggota-anggota jemaat Anda untuk melakukan hal yang sama. Apabila
mereka belajar membawa perpuluhan mereka kepada gereja dan
membawanya setiap minggu, kutuk kemiskinan akan dipatahkan dari
mereka juga.
Memberi bagi pekerjaan Tuhan mematahkan cengkeram dosa "cinta akan
uang". Praktikkan hal itu secara tetap dan hal ini akan
menyelamatkan Anda dari banyak kehancuran hati. Selamatkan diri Anda
dari kemiskinan. Selamatkan jemaat Anda dari kemiskinan dengan
mengajarkan pada mereka tentang hal memberi juga.
JERAT KESOMBONGAN
Kesombongan adalah akibat dari kurangnya keyakinan tentang panggilan
Anda dan penghargaan terhadap diri. Kesombongan adalah kegagalan
yang paling mudah dilihat oleh orang lain. Namun, merupakan hal yang
tersulit untuk dilihat oleh diri kita sendiri.
Kesombongan tampak dalam sikap. Menyombongkan diri justru menyiarkan
rasa tidak aman itu. Seseorang yang memunyai pelayanan yang berhasil
tidak perlu menyiarkan tentang hal itu. "Biarlah orang lain memuji
engkau dan bukan mulutmu." (Amsal 27:2)
Jika seseorang merasa perlu mengiklankan bahwa ia adalah seorang
rasul misalnya, hal itu berarti bahwa ia meragukan dirinya sendiri
dan meragukan orang lain akan berpikir demikian, kecuali ia
mengatakan sesuatu tentang hal itu. Menyombongkan diri adalah suatu
bukti yang nyata bahwa seseorang penuh dengan kesombongan dan rasa
tidak aman.
A-P-E
Seorang sahabat saya menceritakan tentang seseorang yang menyatakan
diri punya tiga pelayanan yang besar. Ia memakai tanda kecil yang
disematkan di dadanya. Pada tanda itu, secara vertikal ditulis tiga
kata: Apostle (Rasul), Prophet (Nabi), dan Evangelist (Penginjil).
Huruf pertama dari setiap kata itu ditulis dengan huruf cetak yang
besar dan tebal.
Kalau membaca dari jauh, yang Anda lihat hanya APE. Seseorang secara
bergurau mengatakan, "Kesombongannya menjadikan dia seperti seekor
monyet (APE)." Jadi satu kata "ape" (monyet) itu yang mungkin lebih
cocok bagi orang tersebut daripada penyataannya tentang tiga
pelayanannya itu.
Kesombongan menunjukkan bahwa seseorang tidak mengerti arti
kepemimpinan yang benar. Sepanjang persiapan seorang pemimpin,
penempaannya cukup berat sehingga seharusnya ia sudah belajar
tentang kerendahan hati. Rasa tidak aman (yang menghasilkan
kesombongan) menjadikan seseorang tidak layak bagi fungsi
kepemimpinan rohani. Rasa aman/keyakinan seorang pemimpin berasal
dari memercayai Tuhan yang memberinya hikmat dan bimbingan yang ia
butuhkan untuk melakukan apa yang benar.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Pembentukan Seorang Pemimpin
Judul asli buku: The Making of a Leader
Judul bab: Kepemimpinan -- Harganya dan Jerat-jeratnya
Judul artikel: Tiga Jerat Utama Kepemimpinan
Penulis: Ralph Mahoney
Penerjemah: Tidak dicantumkan
Penerbit: World Missionary Assistance Plan, California
Halaman: 95 -- 99
==================================**==================================
TIPS
BAGAIMANA MENGATASI COBAAN?
Injil mengungkapkan bahwa kita semua mengalami cobaan. 1 Korintus
10:13 mengatakan, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah
pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.
Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu
dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan
memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat
menanggungnya." Mungkin ayat itu akan menguatkan kita saat kita
sering kali merasa bahwa dunia seakan runtuh menimpa kita sendiri,
sementara orang lain nampaknya kebal dari segala cobaan. Dikatakan
bahwa orang Kristen pun juga dicobai, "Sebab Imam Besar yang kita
punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan
kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah
dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15)
Lalu dari manakah sebenarnya cobaan-cobaan itu datang? Yang pasti,
cobaan itu tidak datang dari Tuhan, meskipun Ia memang mengizinkan
cobaan itu datang. Yakobus 1:13 mengatakan, "Apabila seorang
dicobai, janganlah ia berkata: `Pencobaan ini datang dari Allah!`"
Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri
tidak mencobai siapa pun. Dalam kitab Ayub pasal yang pertama, kita
dapat melihat Tuhan mengizinkan Iblis menggoda Ayub, namun dengan
batasan-batasan. "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis,
berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari
orang yang dapat ditelannya" (1 Petrus 5:8). Ayat kesembilan
mengatakan pada kita untuk melawannya, menyadari bahwa orang Kristen
yang lain juga mengalami serangan ini. Melalui ayat-ayat itu, kita
tahu bahwa cobaan itu datangnya dari Iblis. Kita juga dapat melihat
dalam Yakobus 1:14 bahwa cobaan juga berasal dari dalam diri kita
sendiri. Kita dicobai ketika kita "diseret dan dipikat oleh
keinginan kita sendiri" (ayat 14). Kita mengizinkan diri kita
memikirkan hal-hal tertentu, mengizinkan diri kita sendiri pergi
menuju ke tempat yang seharusnya tidak kita tuju, dan membuat
keputusan berdasar atas keinginan kita sendiri yang pada akhirnya
membawa kita kepada pencobaan.
Bagaimana kita dapat melawan pencobaan-pencobaan yang datang kepada
kita? Pertama-tama, kita harus kembali pada teladan Yesus yang
dicobai di padang gurun oleh Iblis (Matius 4:1-11). Setiap cobaan
yang disodorkan oleh Iblis selalu dijawab dengan jawaban yang sama,
"Ada tertulis," yang kemudian diikuti dengan firman. Jika Anak Allah
menggunakan firman Tuhan untuk mengatasi cobaan dengan efektif --
yang kita tahu bahwa hal itu memang berhasil karena setelah tiga
cobaannya gagal, "Iblis meninggalkan Dia" (ayat 11) -- lalu apa lagi
yang bisa kita gunakan untuk melawan cobaan? Semua usaha kita untuk
melawan cobaan akan lemah dan tidak efektif kecuali usaha itu
dikuatkan oleh Roh Kudus melalui pembacaan, pembelajaran, dan
perenungan firman-Nya. Dengan cara itu, kita akan "diubahkan oleh
pembaharuan budi kita" (Roma 12:2). Tidak ada senjata lain untuk
melawan cobaan kecuali "pedang Roh, yang adalah firman Allah"
(Efesus 6:17). Kolose 3:2 mengatakan, "Pikirkanlah perkara yang di
atas, bukan yang di bumi." Jika pikiran Anda dipenuhi dengan
acara-acara terbaru yang ada di televisi, musik, dan semua bentuk
budaya yang ditawarkan, kita akan dibombardir dengan pesan dan
gambaran yang secara tak terhindarkan akan membawa kita kepada
keinginan dosa. Namun, jika pikiran kita dipenuhi dengan kemulian
dan kekudusan Tuhan, kasih dan belas kasih Tuhan, dan kecemerlangan
kasih dan belas kasih itu yang ada dalam firman-Nya, keinginan
duniawi kita akan musnah dan lenyap. Namun, tanpa pengaruh firman
Tuhan ada dalam pikiran kita, kita menjadi terbuka terhadap apapun
yang Iblis ingin lemparkan kepada kita.
Oleh karena itu, firman Tuhan adalah satu-satunya cara untuk menjaga
hati dan pikiran kita supaya cobaan menjauh dari kita. Ingat firman
Tuhan kepada murid-murid-Nya di taman saat Dia dikhianati,
"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam
pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah" (Matius 26:41).
Kebanyakan orang Kristen tidak terang-terangan ingin jatuh ke dalam
dosa, namun kita tidak dapat menghindar untuk jatuh di dalamnya
karena daging kita tidak cukup kuat melawannya. Kita menempatkan
diri kita dan situasi atau memenuhi pikiran kita dengan keinginan
nafsu, dan itu akan membawa kita ke dalam dosa.
Kita harus memperbaharui pemikiran kita seperti yang dikatakan dalam
Roma 12:1-2. Kita tidak boleh berpikir layaknya dunia berpikir, atau
berjalan seperti halnya dunia berjalan. Amsal 4:14-15 mengatakan,
"Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan
orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah
dari padanya dan jalanlah terus." Kita harus menghindari jalur dunia
yang akan membawa kita ke dalam cobaan karena daging kita lemah.
Kita dapat dengan mudah terseret oleh keinginan nafsu kita.
Matius 5:29 mengandung nasihat yang sangat bagus, "Maka jika matamu
yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena
lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada
tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka." Ayat itu terdengar
begitu bengis! Dosa itu bengis! Yesus tidak berfirman bahwa kita
harus secara literal membuang salah satu bagian dari tubuh kita.
Mencungkil mata adalah sebuah langkah tegas, dan Yesus mengajarkan
kepada kita bahwa jika perlu, sebuah langkah tegas perlu dilakukan
untuk menghindari dosa. (t/Dian)
Diterjemahkan dari:
Nama situs: Gotquestions.org
Judul asli artikel: How Can I Overcome Temptation?
Penulis: Tidak dicantumkan
Alamat URL: http://www.gotquestions.org/overcome-temptation.html
==================================**==================================
INSPIRASI
BERHATI-HATILAH DENGAN KEKUASAAN ANDA
Berhati-hatilah atas kekuasaan yang Anda miliki sebagai seorang
pemimpin, karena Anda dapat menggunakan kekuasaan itu untuk kebaikan
atau untuk kejahatan. Lord Acton telah mengingatkan hal ini sejak
lama. Namun, sepanjang masa kita bisa melihat dengan jelas betapa
banyak pemimpin yang masih membuat kesalahan yang sama. Hati saya
terkadang sangat sedih melihat begitu banyak pejabat pemerintah kita
yang diseret ke meja hijau karena melakukan tindak pidana korupsi.
Tidak sedikit pula yang memanfaatkan berbagai fasilitas negara demi
kepentingan pribadi, keluarga, atau kerabat dekat. Itulah sebabnya
KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) tetap menjadi tema yang hangat.
Reformasi yang digulirkan tahun 1998 lalu tampaknya masih sangat
jauh dari harapan. Namun, kita tidak boleh berputus asa. Di sisi
lain, kita seharusnya bersyukur karena telah diperlihatkan contoh
penyalahgunaan kekuasaan yang menyengsarakan hidup begitu banyak
orang. Contoh-contoh negatif itu hendaknya menjadi pelajaran agar
kita tidak melakukan hal yang sama, melainkan memilih melakukan hal
yang sebaliknya (yang positif). Bagaimana menurut Anda?
Diambil dari:
Judul buku: The Leadership Wisdom
Penulis: Paulus Winarto
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Jakarta 2005
Halaman: 23
==================================**==================================
STOP PRESS
GUBUK ONLINE (GUDANG BUKU KRISTEN ONLINE)
Situs GUBUK Online diluncurkan oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
akhir tahun 2005. Situs ini menyediakan bahan-bahan buku Kristen
yang bisa diakses untuk dibaca secara online atau diunduh
(download). Kategori yang tersedia terdiri dari Alkitab, biblika,
pendalaman Alkitab, teologia, penginjilan, leadership, konseling,
pelayanan anak, dan umum. Untuk membaca atau mengunduh bahan-bahan
tersebut, tersedia navigasi yang memudahkan kita untuk memilih
kategori pustaka yang diinginkan. Situs ini juga menyediakan
fasilitas pencarian bahan dan tautan (link) ke beberapa situs-situs
YLSA maupun situs-situs Kristen lainnya. Tersedia juga bahan-bahan
resensi buku Kristen yang bermanfaat untuk mendorong Anda membaca
buku-buku Kristen bermutu.
==&qt; http://gubuk.sabda.org/
==================================**==================================
Berlangganan: subscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Kontak e-Leadership: leadership(at)sabda.org
Arsip e-Leadership: http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/arsip
Situs Indo Lead: http://lead.sabda.org/
Network Kepemimpinan: http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_kepemimpinan
______________________________________________________________________
Redaksi e-Leadership: Dian Pradana dan Puji Arya Yanti
e-Leadership merupakan kerjasama antara Indo Lead, YLSA, dll.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Bahan ini dapat dibaca secara on-line di:
http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/
Copyright(c) 2008 oleh YLSA
http://www.ylsa.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
==================================**==================================
|
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |