Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-sh/2012/02/26 |
|
Minggu, 26 Februari 2012
|
|
Judul: Jijik terhadap dosa Jijik, demikian perasaan Daud saat ia menyadari keberdosaannya (5-7). Ungkapan "dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku" tidak boleh dimengerti sebagai pernyataan doktrin bahwa hubungan seks adalah dosa atau perempuan yang melahirkan anak adalah dosa. Ungkapan itu adalah perasaan jijik Daud terhadap diri sendiri yang begitu dalam terlibat dengan dosa. Ia diperbudak oleh nafsu kedagingan, disetir oleh upaya menutupi dosanya dengan mengkambinghitamkan orang lain, puncaknya ia membinasakan orang itu (16). Gelisah dan tidak ada damai, demikian perasaan Daud, yang menyimpan dosa-dosanya begitu rapi di hadapan orang lain (10-14). Kalau bukan Natan yang diutus Tuhan untuk membongkarnya, Daud pasti masih terlena (2Sam. 12). Tegoran keras itu menyadarkan Daud untuk menghampiri takhta kudus Allah dan memohon pengampunannya. Hanya Tuhan yang dapat menyucikan dirinya dari noda dosa dan mendamaikan hatinya. Celakalah orang yang hati nuraninya sudah kebal yang tidak merasa bersalah, yang bisa tidur tenang di atas penderitaan orang lain. Ia akan binasa tanpa mendapat pengampunan. Kalau Anda merasa jijik terhadap dosa-dosa Anda dan tiada damai sejahtera dalam batin Anda karena kejahatan Anda, itu tandanya Anda belum kehilangan kesempatan. Jiwa yang hancur dan hati yang patah dan remuk justru menjadi perhatian Allah. Dia ahli mengobati kehidupan yang rusak akibat dosa. Diskusi renungan ini di Facebook:
Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |