Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-sh/2014/06/09 |
|
Senin, 9 Juni 2014
|
|
Judul: Bijak sebagai orang pilihan Hebron adalah tempat yang dipilih Allah (2). Di situlah Daud diurapi untuk yang kedua kalinya (4; bdk. 1Sam. 16:13). Ini memperlihatkan penerimaan penduduk wilayah itu terhadap Daud sebagai orang yang diurapi. Namun sebagai raja, Daud bukan hanya menghadapi orang-orang yang bersikap semacam itu. Ia juga harus bijak menghadapi orang-orang yang mungkin saja bersikap berbeda. Orang-orang Yabesh-Gilead salah satunya. Mereka sangat setia kepada Saul (4b, bdk. 1Sam. 11:1-13, 31:11-13). Maka Daud menyatakan penghargaan kepada Saul dengan berterima kasih atas penguburan Saul yang mereka telah lakukan (5-7). Dalam hal ini, kita melihat kebesaran hati Daud sebagai raja. Loyalitas mereka terhadap Saul bukan menjadi ganjalan bagi Daud karena ia lebih mengutamakan kedamaian dan kesatuan. Oleh karena itu, ia mengambil inisiatif untuk menghubungi mereka (5). Lalu secara tidak langsung, Daud mengingatkan mereka bahwa saat itu dialah orang yang diurapi Allah (7), dan dia menawarkan persahabatan dengan mereka (6-7). Meski sadar bahwa dirinya adalah orang pilihan Tuhan, Daud tidak diam-diam saja atau sebaliknya memaksa orang untuk menerima dia sebagai raja. Ia bersikap secara simpatik dan bijak dalam upaya memperoleh dukungan dari suku-suku lain yang belum memahami bahwa dialah raja pengganti Saul, yang telah diurapi Tuhan. Menyadari diri sebagai orang pilihan Tuhan memang seharusnya tidak membuat kita menjadi tinggi hati atau merasa benar sendiri. Sebaliknya, kita justru harus semakin bijak. Diskusi renungan ini di Facebook:
Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |